Rabu, 11 Januari 2012

Mengisi Hidup dengan Kehidupan.

Pertanyaan dari anda pasti akan muncul, setelah membaca judul dari buku ini. Ini adalah salah satu teori yang saya ungkapkan dari kekalahan hidup yang dialami lebih banyak manusia di dunia ini. Ada yang merasa, adapula yang tidak merasakan, bahkan merasa nyaman dengan kekalahan yang dialaminya.  Bagian orang yang sedikit mengangap itu merugikan hingga terpikir baginya untuk mengalahkannya dengan caranya sendiri-sendiri. Tetapi meskipun banyak cara tapi intinya adalah mungkin dapat kita ambil kesimpulan untuk menganggapnya sama. Kesamaanya adalah banyak yang menemukan kebaikan dan sukses dalam menjalani kehidupan dengan penuh makna yang baik dan membanggakan, hanya karena adanya kehidupan dalam hidupnya. Kebalikannya adalah kebanyakan orang menjadi biasa-biasa saja atau bahkan terpuruk dalam keseringan permasalahan dalam hidupnya, karena kehidupan dalam hidupnya tidak ada, alias hidup dengan kehampaan.

Dalam keadaan hidup seperti yang kita alami sekarang ini, dapat kita bayangkan adanya tanda-tanda kehidupan di dalam hidup kita. Sesuatu yang membuat hidup kita tidak hampa. Ada cita-cita dan kekuatan untuk selalu bersemangat menggapainya, menjadikan hidup terasa bermakna. Keberadaanya berbeda dalam setiap manusia. Ada yang banyak adapula yang  sedikit. Kita dapat mengusahakan keberadaannya dalam jumlah yang bisa kita tambahkan sampai tak terhingga. Denyut kehidupan dalam hidup kita adalah sepiritualitas yang sangat mempengaruhi jasmani atau material yang berpengaruh terhadap hidup kita. termasuk keadaan kita terhadap kerasnya tantangan dan rintangan maupun godaan yang melemahkan kekuatan kita itu sendiri untuk ingin selalu bertahan dalam sukacita. Kehidupan dalam hidup kita itulah peran terpenting dalam melangkah, juga pembuka jalan untuk menerangi jalan di depan mata kita yang kadang gelap maupun terhalang bebatuan. Ini adalah spiritualitas, yang dapat kita bayangkan keberadaannya sebagai suatu api yang berkobar di dalam tubuh kita. Menerangi segala sesuatu yang harus diberi penerangan. Langkah kakipun semakin lebih pasti untuk melangkah ke depan kearah yang direstui oleh sang pencipta yang merupakan sumber dari segala sumber terang dan segala kebaikan hidup di dunia  dan di akhirat.

Gambaran yang jelas seperti keadaan seorang yang hidup dalam kesusahan, dirundung duka tidak hanya sekali-kali, tapi selalu terjadi. Keadaan negatif semacam itu adalah suatu kejadian kekalahan apabila kita terhanyut dalam kesedihan yang mendalam. Selalu ada jalan untuk terbuka rasa lain yang bisa dikondisikan untuk menghibur tapi tidak lari dari keadaan. Sesuatu yang wajar bisa dirasakan akan adanya hikmah dari semua itu. Kita dapat mengambil hikmahnya dari sesuatu yang negatif yang menimpa kita. Mengupayakan adanya hikmah ini adalah salah satu kemampuan kita untuk menyalakan kehidupan dari dalam diri kita sehingga kita bisa terhindar dari hal negatif yang berkelanjutan.

Hikmah yang kita adakan akan membuat kita sedikit melupakan kesulitan dan derita yang sedang kita alami. Karena dengan semakin banyak waktu dan tenaga yang kita kuras hanya untuk memikirkan kesedihan dan penyesalan yang pasti mengeluarkan banyak energi sia-sia. Hikmah yang kita ambil minimal menghibur kita, bahkan yang paling bagus adalah hikmah yang menyemangati kita untuk secepatnya terbebas dari kesedihan dan kesulitan yang sedang kita alami dan tergantikan dengan semangat meraih kesuksesan.

Bersyukur meskipun dalam kesedihan dengan beranggapan masih banyak orang yang lebih mengalami kesedihan dibanding kita, adalah salah satu cara juga untuk melupakan pikiran kita tentang kesedihan kita yang bisa menguras banyak tenaga yang semestinya bisa kita gunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat. Jika kita berlarut-larut memikirkan kesedihan kita, jiwa kita jadi lemah. Konsentrasi menjadi turun sehingga lebih mudah lupa atau lebih mudah tersinggung. Waktu terbuang sia-sia pekerjaan yang semestinya dikerjakan menjadi berantakan karena kurang konsentrasi. Ini berbahaya, keadaan ini bisa mengakibatkan kemunkginan besar terjadinya kecelakaan kerja. Melupakan kesedihan menggantikan dengan hikmah yang baik niscaya lebih berarti, akan muncul ide yang cemerlang dan jernih untuk terbebas dari  kesedihan itu.

Ada orang yang mempunyai kemampuan menyembunyikan kesedihan dengan hanya mengubah raut muka disaat kesedihan datang. Sepertinya keadaan ini belum bisa sepenuhnya menyalakan kehidupan dalam diri kita. Akan terlihat juga guratan kesedihan dalam raut mukanya meskipun disembunyikan dengan beragam senyuman. Masih ada keadaan sekarat dalam kehidupan diri orang itu, meskipun ini bisa membuat sangat berarti bagi kehidupan orang lain, alasan yang tepat pasti ditujukan bagi orang-orang yang dicintainya agar tetap tenang dan terhindar dari hal negatif. Contoh paling gampang adalah seperti yang dialamai seorang ibu yang harus kehilangan suaminya sementara masih ada anak-anaknya yang masih kecil yang belum tahu apa-apa. Harus menunggu waktu untuk menjelaskan kebenaran yang pasti sulit untuk diterima.  Keadaan seperti ini bisa saja terjadi dalam kehidupan kita tapi hikmah yang masuk akal dapat kita munculkan  untuk meredakan suasana negatif kita. Hikmah yang baik sudah pasti akan menghibur kita ini tanpa merusak raut muka akibat kesedihan yang bisa dialihkan bahkan terisi kebahagiaan karena hikmah yang baik itu pengaruhnya melebihi kesedihan yang ada. Ibu itu mengambil hikmah bahwa sang suami sudah berada di Surga, pasti akan ada jalan terang buat kehidupan bersama anak-anaknya setelah itu dalam beberapa selang waktu yang wajar, ibu muda ini bertemu seorang pria yang mirip dengan suaminya hingga dalam suatu keadaan tertentu mereka berjodoh, dengan kesejahteraann yang lebih baik, sementara anak-anak belum sempat mengetahui hal sebenarnya, dan akhirnya kebahagiaan menyertai keluarga itu.

Mengisi hidup dengan kehidupan dapat kita lihat dari salah satu contoh seperti cerita diatas. Mengisi hidup dengan kehidupan dapat kita lakukan setiap waktu. Apabila kita melakukannya lebih sering maka kita akan tertempa untuk selalu teringat dan selalu menemukan hikmah yang baik dalam tiap kesedihan yang akan menimpa kita. Sehingga kesedihan tidak terlanjur memasuki kehidupan kita, meskipun peristiwa yang orang lain bilang itu adalah hal yang sangat menyedihkan, tapi kita bisa menerimanya dengan lapang dada. Justru kebahagiaan yang kita rasakan, tapi tidak perlu kita tunjukkan dengan senyum lebar bahkan tertawa, yang mungkin jadi buruk menurut prasangka orang.

Setiap orang pasti sudah pernah mengalami kesedihan. Terutama di waktu kecil dengan seringnya kita menangis karena rasa egois kita yang tidak kita sadari. Ada orang yang jarang sekali mengalami kesedihan tapi ada juga orang yang sering mengalami kesedihan. Kadang juga ada orang yang bertubi-tubi mengalami kesedihan. Nasib-nasib jelek amat, kata dia. Hal semacam inilah yang pantas kita pelajari, untuk dicari akar dari kesedihan yang bertubi-tubi itu. Kemudian diperkirakan apakah ada solusi yang baik yang bisa meredam kesedihan yang datangnya bertubi-tubi itu. Hikmah yang baik pasti ada dibalik kesedihan-kesedihan itu. Hikmah yang paling baik menurut perkiraan saya adalah bahwa orang itu sedang mengalami tempaan, atau bahasa kita adalah percobaan dari Tuhan. Cobaan datang terutama untuk semakin menguatkan iman kepercayaan kita terhadap Tuhan. Rasa sayang Tuhan kepada kita dengan cara memberikan ujian. Semakin kita mampu untuk terus bertahan dalam suasana api kehidupan yang terus menyala. Semakin Tuhan sayang kita. Niscaya Tuhan memberikan berkat melimpah, yang berbanding terbalik dari percobaan yang telah kita lalui dengan sukses.

Percobaan maupun ujian mungkin sangat mudah mungkin juga sangat sulit. Kemampuan kita untuk bertahan dalam ujian, dan melewatinya dengan sukses, mestinya dapat kita lakukan sendiri dengan harapan kita bisa bertahan pula dari ujian yang sebenarnya. Puasa adalah salah satu ujian yang bisa kita lakukan untuk belajar menemukan hikmah yang baik dari bermacam kejadian yang kita alami. Tapi berpuasa tidak asal berpuasa tentunya. Tapi berpuasa yang mengutamakan keteguhan iman dan keyakinan akan hikmah yang bisa kita ambil dari puasa yang kita lakukan. Terutama disaat berpuasa, kita bertahan untuk terus menyalakan api kehidupan.

Kita bisa menganggap berpuasa adalah salah satu cara kita menabung sesuatu yang berharga. Kita bisa mandapatkan pahala, keteguhan iman, dan kekuatan untuk mengahadapi dan melalui tantangan hidup.  Ada juga cara lain bagi orang untuk melatih keteguhan dan kekutan untuk digunakan sebagai persiapan untuk menghadapi tantangan yang diyakini akan dilaluinya. Seperti seorang atlit marathon. Tantangan yang akan dihadapi adalah olimpiade marathon dunia. Kelas ini memang berat jadi latihan dan ujian harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum pertandingan, dengan cara berlari mengelilingi stadion tidak langsung 10 kali. Mungkin latihan pertama baru kuat setengah putaran. Latihan berikutnya bisa ditambah. Latihan berikutnya lagi, porsi putaran terus ditambah. Sampai latihan yang ke sekian kalinya mendekati hari pertandingan, kemampuan sudah bisa dirasakan. Rasa mengeluh, sedih lelah karena latihan pasti ada, tapi itu bisa ditepis dengan hikmah atau tujuan akan kesenangan dan kepuasan meraih kemenangan. Kemenangan untuk menjadi orang yang lebih kuat dari orang-orang kebanyakan. Itulah hikmah terakhir yang bisa didapat seandainya kemenangan sebagai juara ternyata orang lain yang mendapatkannya, karena mungkin latihan mereka lebih berat atau lebih lama, hingga mencuri start dari rata-rata yang dilakukan pemain lainnya.

Kita bisa melakukan latihan ketahanan dan keteguhan untuk mendapatkan kekuatan menghadapi kehidupan yang kejam ini. Tidak perlu harus menjadi juara. Karena lebih banyak orang yang tidak melakukan sama sekali latihan daripada yang menjadi juara yang memang hanya satu orang saja. Jika kita mengambil sikap untuk melakukan latihan keteguhan, kita bisa meletakkan kehidupan kita pada posisi diatas rata-rata orang kebanyakan. Untungnya tidak semua orang yang berada di bawah rata-rata itu adalah benar-benar mempunyai kehidupan yang hampa. Mereka tetap ada kehidupan di dalam hidupnya. Dengan bukti adanya semangat untuk bertahan hidup, semangat untuk memberikan keturunan, semangat untuk bersosialisasi dengan sesama manusia, dan banyak lagi semangat hidup yang memungkinkan hidupnya masih terisi kehidupan yang berarti. Terutama tidak bisa diragukan adalah iman mereka dan kita. Keberadaan iman di kehidupan kita. Iman atau keyakinan yang kuat menyalakan api kehidupan kita menjadi lebih terang. Api kehidupan yang terang adalah bukti keteguhan dan kekuatan diri kita. Kita bisa terhindar dari bencana dan malapetaka yang menyedihkan karena kita sudah mempunyai api kehidupan, hasil dari latihan keteguhan kita menghadapi cobaan yang sering kita lalui. Kita bisa berkata bahwa kita sudah tahan banting. Justru sebaliknya anugerah kebahagiaan dapat kita rasakan karena kemampuan kita untuk secara sadar atau tidak sadar mengambil hikmah dari segala sesuatu kejadian menjadi bermakna.


Menyalakan Api Kehidupan

Ada banyak cara agar api kehidupan kita terus menyala. Diantaranya seperti contoh-contoh pada bab sebelumnya., yaitu dengan melatih keteguhan iman, dengan berpuasa, dengan mati rasa,  yaitu mengurangi rasa-rasa yang enak, dengan prihatin, berbuat kebaikan-kebaikan dan semua itu didasari dengan mengkondisikan ketenangan hati tanpa prasangka buruk dan pikiran-pikiran buruk lainnya, atau selalu mengambil hikmah yang baik dari setiap latihan keteguhan itu. Dan nyalanya bisa semakin terang bila dibarengi dengan doa. Berdoa tidak perlu harus meminta sesuatu. Berdoa adalah cara terbaik kita berkomunikasi dengan Tuhan. Semakin sering kita melakukan doa yang benar, semakin baik pula hubungan kita kepada Tuhan, kemungkinan besar semakin dimudahkan jalan hidup kita.

Ada berbagai doa yang bisa dilakukan sesuai keyakinan kita. Doa yang sering kita lakukan adalah dengan mengucapkannya, yaitu dengan bahasa sehari-hari yang kita mengerti. Misalnya dalam perjalanan naik kendaraan, agar terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan, kita bisa berdoa, “Tuhan lindungilah aku”. Doa ini paling sering saya lakukan setiap kali melakukan perjalanan baik dekat maupun jauh dengan menggunakan kendaraan, dan saya bersyukur kepada Tuhan atas kesediaan-Nya berkenan melindungi perjalanan saya. Ada juga doa yang paling primitif, yaitu dengan bahasa imajinasi. Doa ini sebenarnya bagus tapi jarang yang bisa karena keterbatasan kemampuan imajinasi orang. Tapi cara lain bisa digunakan yaitu dengan menggabungkan bahasa yang ada dengan bahasa imajinasi. Contohnya kita berdoa untuk berbicara pada Tuhan hanya meminta Tuhan berkenan menerangi hidup kita. Kita bisa membayangkan seberkas sinar sangat terang menyorot ke arah kita sambil mengucapkan doa, “Tuhan terangilah hidupku”. Berdoa hanya dengan ucapan sepertinya hanya dikabulkan pada saat kita mengucapkannya, atau dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama setelah kita mengucapkannya, apalagi disaat berdoa, kita sedang melakukan sesuatu aktifitas. Berarti kita berdoa dengan konsentrasi yang terpecah. Sepertinya itu masih bisa dilakukan untuk tujuan doa-doa yang sederhana tanpa unsur yang berat seperti doa yang memerlukan sesuatu yang bernilai mukjizat. Meskipun berupa mukjizat kecil, yang relatif nilainya. Bagi orang miskin yang berdoa menginginkan mempunyai rumah sendiri disaat dia tidak mempunyai tempat tinggal, seandainya terkabul, rumah paling kecilpun sudah merupakan mukjizat besar yang mereka rasakan. Lain lagi bagi seorang konglomerat, lain ceritanya.

Selalu menjadi pertanyaan bagi orang yang suka menyerah, terhadap doa yang menurut perasaan kita belum dikabulkan, atau mungkin lebih halus lagi keadaan menyerah dalam hal kebaikan, yaitu pasrah. Kita pasrah terhadap nasib kita. Kepasrahan mungkin akan lebih baik bila kita menganggapnya sebagai ujian maupun melatih kemampuan kita untuk selalu bersyukur dengan segala pemberian Sang Pencipta. Dengan kesabaran dan keteguhan dalam sukacita yang bisa kita kondisikan secara tulus, niscaya Tuhan melihat ketulusan hati kita hingga memberikan hadiah dari hasil ujian yang telah kita terima dengan senang hati.

Doa yang kita panjatkan kepada Tuhan terhadap sesuatu yang menjadi keinginan kita adalah sesuatu yang sangat baik bagi keadaan api kehidupan kita. Semakin tinggi cita-cita kita, tentunya kita mempunyai semangat untuk meraihnya. Kepasrahan bukan menganggap bahwa doa kita tidak terkabul, tapi kepasrahan dan kesabaran terhadap waktu yang diberikan Tuhan untuk selalu meminta dengan kondisi senang hati dalam keyakinan teguh untuk mempercayainya secara tulus, pasti jalan terang dibukakan hingga ada waktu yang tepat untuk meraihnya.

Contoh sederhana adalah seorang tunawisma yang sangat miskin menginginkan mempunyai mobil yang mewah. Tidak mustahil. Dengan ketulusan doa dan kepasrahan terhadap segala sesuatu kebaikan yang bakal dialaminya terus menerus seiring dengan keteguhan hati bertahan dalam doanya tanpa curiga tidak dikabulkan. Niscaya terkabul. Hanya mungkin prosesnya akan sangat rumit menurut pemikiran kita. Ada bagian bagian dalam hidupnya yang belum dilengkapi. Yang pasti terlihat adalah bahwa orang itu jelas belum mempunyai rumah. Mungkin pekerjaan yang belum pasti. Makan sehari-hari yang belum terasa cukup. Pertanyaan dari kita adalah, “Bagaimana mungkin berdoa menginginkan sebuah mobil, sedangkan untuk makan dan tidur saja masih harus bersusah-susah”. Kita juga bisa bilang bahwa orang itu seperti si Cebol merindukan Bulan. Tapi menurut saya itu adalah bisa. Kalau orang itu menyerah kalah terhadap doanya, ya cukup sampai disini ceritanya. Tapi bila orang itu bertahan tetap yakin dan percaya, jalan kearah cita-citanya sedikit demi sedikit akan dibukakan. Memang mungkin memerlukan waktu yang relatif lama. Dari yang harus merubah profesi dari pemulung menjadi penampung, berkembang menjadi penampung barang rongksok yang semakin menjadi besar. Omsetnya bertambah, sampai pada suatu kondisi dari impiannya untuk mempunyai mobil yang mewah terwujud dengan hanya mengambil sebagian dari kekayaannya. Atau bahkan sampai sudah menjadi kurang berminat untuk membeli mobil mewah padahal uangnya sudah mencukupi. Ia ingin memutar uangnya kembali. Itu adalah proses sebuah doa yang begitu kuat pengaruhnya terhadap perubahan nasib dan bahkan gaya hidup. Orang itu telah lulus dari ujuan, yaitu bertahan dalam keyakinan doa, meskipun bagi orang lain menganggap itu mustahil. Proses yang dilaluinya memang sangat rumit, karena kekuatan doanya harus terbagi untuk melengkapi keadaan supaya menjadi pantas. Orang ini pantas mempunyai mobul mewah karena sudah lengkap terpenuhi segala kebutuhan hidupnya. Proses doa yang terus menerus adalah seperti sebuah lilin yang dinyalakan dalam ruang gelap yang sangat luas. Sekali lagi berdoa lilin bertambah satu, sekali lagi berdoa, lilin bertambah lagi, niscaya ruang yang luas itu akan terpenuhi lilin hingga menjadi terang. Terang karena api kehidupan. Meskipun hembusan dari sana-sini tetap ada, bahkan hampir memadamkan lilin-lilin kecil yang kita coba untuk dinyalakan, tetapi api kehidupan tetap harus diupayakan untuk dinyalakan agar selalu bertambah hingga makin terang.

Api Kehidupan yang Terang

Ketidak perdayaan kita menghadapi kerasnya kehidupan membuat kita mungkin menjadi frustasi. Tapi ini menjadi salah satu kesalahan kita yang sangat fatal. Kita sudah diberi waktu banyak untuk belajar. Sejak dari kecil orang tua yang baik menanamkan faedah berdoa. Kebiasaan berdoa sejak dari kecil akan mengurangi beban kehidupan di sepanjang masa. Dari kecil sudah dibiasakan menyalakan api kehidupan. Hubungan baik dengan Tuhan baik. Terpelihara sampai dewasa, sampai suatu tantangan yang sebenarnya datang, niscaya hasil akhir akan lebih baik daripada yang tidak melakukan kebiasaan berdoa yang baik sejak kecil. Seperti seorang atlit yang sudah menyenangi olahraga dari kecil, diwaktu besar kemungkinan besar sudah terbentuk kekuatan dari hasil latihan yang dialaminya dengan senang hati, dan kekuatan yang dimilikinya akan lebih besar dibanding orang lain yang tidak atau jarang-jarang melakukan latihan, apa lagi tidak menyenanginya sejak kecil. Tetapi tidak boleh berkata terlambat, daripada tidak melakukan sama sekali akhirnya tidak ada kekuatan apapun untuk menggempur tantangan kehidupan. Seandainya masa kecil jarang berdoa, maka mulai sekaranglah digiatkan untuk berdoa. Berdoa yang benar. Dalam konsentrasi penuh untuk berhubungan dengan Sang Pencipta. Konsentrasi memberikan kekuatan pada doa. Doa dengan kekuatan dari konsentrasi akan menguatkan nyala api kehidupan hingga bersinar terang.

Ada beragam doa yang bisa kita lakukan. Sudah kita singgung sebelumnya sedikit mengenai sebagian dari bermacam-macam doa. Doa yang hanya dengan mengucapkan kata-kata, dengan konsentrasi yang terbagi dengan aktifitas sehari-hari. Sepertinya berkekuatan hanya sedikit, dan tidak bertahan lama. Perlu pengulangan-pengulangan hingga bisa dipergunakan pada suasana dan waktu yang tepat. Seperti doa sewaktu dalam perjalanan contohnya. Doa dengan nyanyianpun juga berguna. Kebanyakan untuk memuji dan menyembah Tuhan. Baik juga dengan tarian. Ada juga doa dengan konsentrasi penuh, bahkan bisa menambahkan bukti loyalitas kita terhadap kebutuhan terkabulnya suatu doa, misalnya dengan menambah keprihatinan maupun ujian, demikian juga berpuasa.

Kebiasaan untuk menggunakan konsentrasi dalam setiap doa kita kemungkinan besar akan membawa kita pada kebaikan-kebaikan dibanding yang rutinitas sekedar doa. Seperti kita diajak berbicara dengan orang lain yang melakukannya tanpa konsentrasi, atau tidak menaruh perhatian pada kita, atau bahkan sedang melakukan aktifitas yang sebenarnya bisa ditinggalkan. Akan tampak lain rasanya bila orang yang mengajak berbicara dengan kita menaruh minat pada kita bahkan selalu menatap wajah kita dengan senyuman. Seandainya saya yang sedang lebih dibutuhkan dari orang yang sedang mengajak saya berbicara, misalnya orang itu bermaksud meminjam uang kepada saya. Yang menjadi pertanyaan adalah sikap mana yang baik yang menandakan seberapa tinggi nilai kebutuhan yang pantas kita terima dari dua sikap tersebut? Tentunya kita lebih memilih yang sedang berkonsentrasi pada tujuannya.

Sewaktu kecil saya teringat akan pelajaran agama dimana guru saya waktu itu memberikan pertanyaan yang tidak bisa kami jawab karena memang kami masih kecil. Guru saya bilang, “Mengapa kita berdoa selalu memejamkan mata”? Kami diam. Guru saya bilang bahwa kalau mata kita tidak terpejam, disaat kita berdoa, ada ayam yang lewat, kita pasti melihatnya. Benar juga, berarti konsentrasi terbagi. Konsentrasi yang pekat memungkinkan doa menjadi mempunyai kekuatan untuk menyalakan api kehidupan kita hingga menyala terang.

Konsentrasi itu pernah saya terapkan secara sederhana untuk berdoa diwaktu kecil. Ketika berdoa, saya belum ingin menghentikan doa saya sebelum saya merasakan dari keyakinan saya sendiri bahwa Tuhan mendengar doa saya, yaitu dengan adanya kondisi dimana badan saya terasa ringan dan melayang-layang. Meskipun ada nyamuk yang menggigit, tetap bertahan untuk tidak bergerak sedikitpun lama-lama rasa gatal dari gigitan nyamuk itu tidak lagi terasa mengganggu. Tetap bertahan dalam kekhusukkan. Dengan begitu, saya merasakan kepuasan dalam hati karena saya merasa yakin bahwa doa saya terkabul. Tapi memang kebetulan doa-doa saya yang saya lakukan dengan cara itu, puji Tuhan, sering terkabul. Sekarang saya mencoba memberi kesimpulan, ternyata cara itu bisa diterapkan juga untuk menambah nyala api kehidupan kita jadi lebih cepat bertambah terang.

Konsentrasi yang pekat dapat kita manfaatkan untuk mempercepat nyala api kehidupan kita. Ada satu cara konsentrasi yang wajar bisa kita latih ataupun langsung kita terapkan untuk proses doa kita. Konsentrasi dengan memanfaatkan faedah meditasi. Dengan terbiasa meditasi, kita akan terbiasa memusatkan perhatian kita pada satu hal yang bermanfaat. Timbulah konsentrasi yang pekat, setelah hal-hal lain menjadi kita abaikan. Mungkin contoh berikut ini dapat bermanfaat untuk melatih konsentrasi kita dalam berdoa melalui cara meditasi. Kita duduk santai. Bernafaslah secara pelan tetapi wajar. Rasakan udara yang keluar dan masuk melewati hidung kita. Begitu terus sampai kita mengabaikan sama sekali pikiran-pikiran lain, kecuali pikiran kita yang terarah hanya untuk merasakan pernafasan lewat hidung tadi. Semakin lama kita melakukannya, semakin pekat konsentrasi yang kita rasakan. Disaat mencapai puncak konsentrasi, kadang sebagian orang merasakan sensasi berdirinya bulu kuduk, alias merinding, ada juga sampai merasa badan menjadi ringan, bahkan terasa melayang-layang, setelah minimal salah satu keadaan seperti ini tercapai, kita bisa lakukan tahap yang paling menyemangati hidup kita, yaitu mengutarakan keinginan kita dalam bentuk doa. Konsentrasi yang anda lakukan ini, menguatkan doa anda, hingga nyala api kehidupan kita semakin terang. Dengan ketabahan dan ketekunan bertahan dalam keyakinan yang tetap penuh, niscaya dalam waktu yang tidak lama, doa kita akan terkabul atau diberikan hal lain dengan harga yang sama dengan nilai impian yang kita panjatkan dalam doa itu.

Ada juga cara lain yang saya anggap masih wajar untuk melakukan proses berdoa dengan konsentrasi. Serupa dengan meditasi hanya ada perbedaan cara berdoanya,  yaitu dengan dengan menambahkan bahasa imaginasi. Caranya adalah setelah keadaan konsentrasi tercapai, tambahkanlah kepekatan konsentrasi itu dengan membayangkan tangan kita meraih dan mengumpulkan api-api kehidupan yang berada di sekitar kita. Kita raih segenggam, demi segenggam. Kita kumpulkan terus di depan kita menjadi sebuah bola yang bersinar putih, terang dan menyilaukan. Bola yang bersinar terang itu selanjutnya kita masukkan ke dalam badan kita, hingga badan kita terlihat ikut menyala terang. Terangnya cahaya pada badan kita dapat kita arahkan ke atas untuk mengantar doa kita berupa bentuk dari sesuatu yang kita inginkan untuk dapat terkabul menjadi milik kita. Misalnya sebuah rumah yang kita impikan. Semakin jelas bayangan gambar bentuk impian kita itu, makin jelas maksud yang ingin kita sampaikan, niscaya yang terkabul juga sama seperti yang kita bayangkan. Kalaupun tidak terlalu jelas, kemungkinan terkabul adalah mendekati impian kita. Supaya menjadi jelas sebatas kemampuan kita, dengan cara menambahkan kata-kata pelengkap untuk menerangkan bayangan impian kita. Misalnya kita bisa mengatakan, “Tuhan, ciptakan rumah seperti yang aku bayangkan ini untuk saya. Saya sangat menginginkan rumah seperti  ini menjadi milik saya, supaya hidup saya dan keluarga saya lebih layak. Seandainya ada sesuatu hal yang harus saya lakukan, maka katakanlah kepada saya, apa yang seharusnya saya lakukan. Sekarang saya serahkan problem ini kepada-Mu. Saya tahu, Engkau akan melakukannya untuk saya”. Setelah mengungkapkan isi hati itu, kita bisa mengatakan sekali lagi dengan kata-kata tambahan dengan juga menambah kekuatan sinar yang kita arahkan ke atas, sampai kira kira berada di plafond rumah kita terlihat terang. Kita bisa mengatakan, “Jadilah, jadilah rumah itu menjadi milik saya, jadilah, jadilah, jadilah sesuai kehendak Tuhan. Amin”. Selesai, setelah itu kita bisa melakukan aktifitas lain dengan tidak lagi menghiraukan doa kita tadi, sebab kita harus percaya dan mengkondisikan keyakinan bahwa Tuhan sudah mendengarkan doa kita. Api kehidupan kita menjadi terang. Terang pula jalan di depan mata mulai sedikit atau bahkan langsung banyak dibukakan. Tergantung kekuatan konsentrasi juga ketulusan doa serta keyakinan kita akan terkabulnya doa kita. Kita pasti bisa merasakan perbedaan, sebelum dan sesudah melakukan doa dengan konsentrasi penuh. Tapi jangan melakukan doa secara konsentrasi penuh ini pada saat kita melakukan perjalanan menggunakan kendaraan. Pasti terganggu konsentrasi kita, juga berbahaya. Kita sebaiknya melakukannya dirumah dalam suasana tenang.

Sebagian orang pandai membuat imaginasi kedalam pikirannya, sebagian orang sulit melakukannya. Imginasi yang sulit dilakukan dapat pula dibantu dengan menggunakan gambar-gambar yang menjadi impian kita. Caranya adalah dengan menggambar terlebih dahulu target doa berupa keinginan memperoleh suatu benda misalnya rumah. Kita bisa minta bantuan arsitek untuk membuatkan gambar rumah impian kita, lengkap dengan kamar-kamar sesuai selera, juga bahan-bahan bangunan, dan berbagai macam tambahan accessories dan warna yang bisa mendukung kejelasan dari target impian kita. Jika membayar arsitek itu terlalu mahal bagi pemula, kita bisa juga dengan mudah meminta brosur-brosur rumah yang kita pilih sesuai selera kita pada pameran-pameran penjualan perumahan yang banyak kita jumpai di pusat-pusat pertokoan. Penerapannya dalam proses doa adalah, meletakkan gambar impian kita tepat didepan posisi berdoa kita, atau bisa kita tempelkan di dinding. Pada saat tahap permohonan doa, mata kita bisa kita buka untuk  melihat gambar impian kita, dan mengatakan, “Rumah seperti inilah yang saya ingin untuk menjadi milik saya, Jadilah rumah seperti ini menjadi milik saya, jadilah, jadilah, jadilah sesuai kehendak Tuhan, Amin”.  Selesai. Tunggu peristiwa yang akan kita alami, pasti ada jalan terang ke arah impian kita. Tinggal kita bersabar untuk tetap mengulang kembali doa kita agar yang tadinya berupa ide, akan meningkat menjadi tindakan, meningkat terus peluang datang dan membuka jalan untuk mengarahkan kita untuk selalu menggeser poisi kita hingga makin mendekati impian sampai tercapainya impian kita.

Seandainya memang kita diberi anugerah sebagai orang yang pelupa, terhadap kata-kata yang baik yang harus kita ucapkan dalam doa kita. Kitapun bisa menuliskan kata-kata yang menjadi impian kita untuk kemudian ditempelkan di dinding agar kita sering melihat dan menjadi ingat, juga secara langsung dapat kita baca saat sedang melakukan doa. Seringnya mengingat target impian kita atau seringnya membaca target impian kita, kemungkinan besar kita akan lebih teringat, atau godaan-godaan untuk melupakan impian kita yang merupakan juga hembusan yang bisa memadamkan api kehidupan kita, akan tersingkirkan. Mengulang mengingat target impian kita merupakan doa yang kecil, tidak memerlukan konsentrasi pekat tapi sudah cukup meberikan tetesan minyak bagi nyala api kehidupan kita, hingga juga bertambah terang. Apalagi bila kita semakin sering kita melakukan meditasi dan berdoa secara konsentrasi penuh, maka akan lebih baik dan semakin terang nyala api kehidupan dalam hidup kita. Kualitas hidup bertambah baik. Juga makin besar kemungkinan tercapainya keinginan kita, akibat jalan terang yang dibukakan tanpa kita sadari akan kita lalui untuk mengukuti proses terciptanya keinginan kita.


Api Kehidupan yang Cerdas

Tubuh kita yang terbagi dari jiwa dan raga perlu keseimbangan dalam mencapai kesehatan masing-masing. Dengan kata lain menurut  saya yang paling baik adalah dalam diri kita ada kesehatan spiritual dan material yang seimbang.  Jiwa mewakili spiritual dan raga mewakili material. Ketidaknyamanan akan terjadi bila tidak saling melengkapi. Tapi menurut saya letak diantara kedua bagian kehidupan itu yang harus lebih didahulukan adalah kelengkapan dalam kesehatan spiritual. Jika kebaikan kehidupan kita dalam spiritual yang baik niscaya kehidupan material akan terbawa ikut baik. Mengasah kemampuan untuk bisa menyalakan api kehidupan agar bisa menyala terang.

Ketika kita menyalakan api kehidupan kita, maka dapat kita bayangkan itu seperti seperti obat yang kita minum, masuk ke dalam pembuluh, langsung dengan cerdasnya mencari luang-luang kekosongan bagian tubuh kita yang gelab, sehingga menjadi terang dan tercipta keseimbangan. Jasmanipun mengikuti melalui pikiran kita timbul semangat untuk menolak makanan tidak sehat dan menyemangati kita untuk berolah raga.

Kekosongan dalam ruang-ruang  gelap diri kita kita anggap sebagai penyakit yang harus di sembuhkan. Makin cepat ditangani makin baik agar tidak berkembang menjadi penyakit yang mengharuskan lebih banyak mencurahkan waktu dan tenaga extra berat untuk menyembuhkannya. Penyakit itupun banyak ragamnya. Dimulai dari penyakit yang kelihatan, maupun penyakit yang perlu alat khusus ataupun indra khusus untuk melihatnya. Bahkan ada penyakit yang paling sering kita rasakan dan kebanyakan orang pernah merasakan, yaitu penyakit kanker alias kantong kering. Kekeringan inipun banyak ragamnya. Ada yang benar-benar kering, ada yang agak lembab. Tentunya kita berharap kantong kita itu tidak menjadi kering, tapi basah, kalau bisa basah kuyub. Hal inilah yang terakhir sering dicari banyak orang. Kebanyakan orang tidak  puas dengan apa yang ada pada dirinya sekarang terutama hal keuangan. Sebelum mencapai kebebassan keuangan, orang masih belum merasa puas hingga selalu bersemangat untuk terus bekerja keras mencarinya. Menurut saya, ada yang salah dalam hal cara pencariannya. Kebanyakan orang bekerja sampai membanting tulang dan berkeringat, tapi mengeluh, kenapa sebagian kecil orang tidak harus merasa membanting tulang tapi terlihat pencapaian kesehatan kantongnya. Inilah yang terutama akan kita coba untuk membahasnya, dan mencari solusi yang mendekati tepat, supaya bisa mengangkat derajat kita lebih dari yang sekarang dialami, dengan kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagiaan.

Ada sebagian orang tidak menyadari kesusah payahannya berusaha, tapi  tetap tidak membuahkan hasil. Doa yang sungguh-sungguh penuh konsentrasi meminta sesuatu, tetap belum dibukakan jalan. Mungkin ada kecerdasan dari hasil doa kita yang tetap membuat api kehidupan kita semakin terang. Ternyata ada bagian dari diri kita yang masih terdapat ruang-ruang gelab, maka bagaikan obat yang mujarap, menempatkan api-api kehidupan ke bagian-bagian yang masih terasa gelab, sehingga menjadi terang. Jika kesabaran kita tetap terjaga, niscaya setelah bagian gelab dari diri kita menjadi terang. Bagian gelab yang lain yang menjadi target utama doa kita pasti juga akan mendapat gilirannya. Karena begitu cerdas, maka mungkin juga target keinginan kita itu ternyata lebih mendapat prioritas daripada bagian lain itu. Seperti inilah mungkin dapat kita bayangkan hikmah dari doa kita yang tertunda untuk dikabulkan. Kebahagiaan-kesejahteraan, kesehatan rohani, dan terakhir inti doa kita yang bisa berada terakhir dari proses doa kita, meskipun bukan berarti kita langsung berhenti berdoa setelah terkabul. Kita tentunya tetap bersyukur dan tetap menjaga terangnya api kehidupan kita.

Proses kearah terkabulnya doa kita ditandai dengan berbagai gambaran-gambaran yang terlihat didepan mata kita sebagai petunjuk untuk kita lalui. Bermula dari berkah menerangi pikiran kita sehingga timbul sebuah ide maupun gagasan yang pertama masih samar. Kita harus mengulang lagi doa kita supaya meyakinkan bahwa ide yang terlihat itu benar menuju kearah kebaikan. Kadang kita bisa langsung mengambil kesimpulan bahwa ide itu mutlak menjadi jalan hidup kita. Hati-hati, belum tentu begitu. Kadang ide itu hanyalah suatu jalan untuk mengambil tindakan penghubung saja, untuk jalan ke arah kebaikan. Atau kadang ide itu bernar dan baik tapi masih samar, ataupun kita menganggapnya sudah jelas, dan kesalahan kita adalah langsung mengambil tindakan untuk cepat melaksanakan ide itu, tanpa mengulang lagi doa kita. Hasilnya adalah kemungkinan halangan menjadi beban kita untuk tidak meneruskan kembali tindakan kita yang terlalu buru-buru mengambil kesimpulan. Sambil tetap kita melakukan kesabaran untuk berdoa kembali, menunggu  petunjuk selanjutnya, memang sangat menyenangkan dan lebih terasa mudah bila kita memasrahkan tindakan kita pada Tuhan yang akan mengatur rencana kita dengan rambu-rambu dan petunjuk jalan terlihat sebagai keharusan untuk kita lalui. Proses kearah perbaikan terbukakan. Asal kegigihan tetap ada dalam upaya untuk berdoa dan berdoa secara benar. Ibarat menggempur batu hidup, batu yang bisa bertambah besar . Berdoa pertama, ada ide untuk menggempur, kedua menemukan cara menggunakan palu, ketiga mulai menggempur, keempat  sudah terkikis setengah dari bentuk semula, tapi rasa bosan kita melanda menggoda untuk berhenti, akibatnya bisa jadi hanya separuh impian yang kita dapatkan.

Kecerdasan yang ditunjukkan dari terangnya api kehidupan kita untuk menyinari jalan hidup kita sehingga terbuka, dan dengan mudah kita lalui, ada tahapan-tahapan yang mesti kita lalui. Impian kita untuk satu hal belum langsung terwujud tapi akan diberikan petunjuk dahulu agar kita menjadi lebih layak menerimanya. Beberapa tahapan menuju kelayakan dilalui kadang kita mengira berbeda dengan tujuan akhir impian kita. Misalnya kita menginginkan mobil mewah, sememtara kita tidak mempunyai rumah, dan tidak mempunyai pekerjaan. Akan ada proses agar kita menjadi lebih dahulu memperoleh penghasilan yang bisa ditabung, untuk kemudian bisa membeli rumah yang memiliki garasi, yang mungkin pada kebanyakan pendapat meengatakan bahwa berarti doa kita tidak terkabul atau mungkin meleset dari sasaran utama, hingga kita menjadi putus asa untuk meneruskannya, padahal kita sudah menjadi untung berkat doa kita, yang tadinya tidak mempunyai rumah, kini menjadi mempunyai rumah. Selebihnya kita harus tetap bertahan dalam doa untuk proses selanjutnya agar impian tercapai. Intinya adalah proses doa kita akan mengisi tiap kekosongan di dalam kehidupan kita, yang bisa dinilai secara rasional menjadi tampak wajar, sampai menjadi penuh dengan ruang yang terang dan keadaan layak sudah tercapai. Kadang yang menjadi masalah adalah kita akan berhenti meneruskan target impian, dan beralih ke doa lain yang lebih bermanfaat. Kecerdasan sebuah doa kadang jusstru bisa menyadarkan keinginan manusia untuk mengubah tujuan impian hidup menjadi yang bermanfaat saja.


Api Kehidupan dan Kemakmuran

Dalam ayat Kitab Suci disebutkan, “Carilah Kerajaan Allah terlebih dahulu maka semuanya akan diberikan kepadamu sebagai pelengkap”. Menurut saya ayat itu bermakna bahwa kita bekerja membanting tulang mati-matian dengan harapan tercukupi kebutuhan-kebutuhan kita tanpa kita sadari bahwa semua itu hanyalah sia-sia dan bahkan menghasilkan sesuatu yang tidak seberapa. Kita mestinya mencari dahulu kerajaan Allah melalui hubungan yang baik dengan Tuhan. Kerajaan Allah dalam hal ini saya anggap sebagai hal spiritual kita dengan Tuhan. Dengan doa-doa kita, dengan pujian-pujian dan hubungan baik dengan Tuhan, yang kita lakukan tidak secara instant tapi melewati proses berdoa dalam konsentrasi. Hasil dari doa dan konsentrasi yang pekat yang kita lakukan secara terus menerus hingga membuat semakin menyala terang api kehidupan dalam hidup kita adalah salah satu pahala dimana Tuhan berkenan hadir, disitulah juga ada kerajaan Allah, hingga kebutuhan duniawi yang ingin kita miliki, akan diberikan sebagai pelengkap dari pahala yang kita terima.

Semua pekerjaan yang kita lakukan tanpa menambahkan hubungan baik dengan Tuhan, atau saya sebut sebagai hubungan spiritual dengan mengisi hidup kita dengan api kehidupan, pasti akan menghasilkan sesuatu yang biasa-biasa saja. Tapi sebaliknya, bila kita menambahkan hal spiritual di dalam pekerjaan kita, niscaya kita akan mempunyai sesuatu yang lebih dari kemakmuran kita sebagai pelengkap.

Target doa, atau cita-cita maupun impian kita sehingga kita tuangkan dalam sebuah doa adalah sebagai mata kail yang membakar semangat kita untuk melakukan doa yang baik. Mata kail itu adalah motivasi yang kuat sehingga proses membuka hubungan baik dengan Tuhan bisa terlaksana dengan lebih baik. Doa-doa yang kita panjatkan dengan tulus dan konsentrasi dan rasa suka cita karena kita selalu menganggap selalu didengar oleh Tuhan, menyemangati kita untuk semakin yakin dan bersemangat menyalakan api kehidupan hingga semakin terang.

Tidak usah takut menentukan target impian dari doa kita. Semakin tinggi cita-cita, semakin bertambah semangat untuk berusaha mewujudkannya. Apalagi impian itu kebanyakan menyenangkan hati bagi pemimpinya. Jika impian kita hanya kecil, mungkin bukan menjadi suatu tantangan, hinga kita anggap biasa saja. Yang lebih tidak membuat kebaikan adalah akhirnya semangat berdoa kita menjadi berkurang, doa kitapun bermutu kurang, tanpa konsentrasi, tanpa keyakinan berhasil, dan yang paling fatal adalah menjadi berkurangnya kepercayaan kita kepada Tuhan. Jangan sampai ini terjadi pada kita. Maka lebih baik seperti pesan Bung Karno, yaitu gantungkan cita-cita setinggi langit. Dan pasti kita harus bersemangat untuk meraihnya. 

Dalam hubungan dengan kemakmuran juga begitu. Cita-cita kita untuk menjadi makmur dan sejahtera adalah target yang baik untuk menyemangati kita melakukan kegiatan spiritual ini. Sepertinya agak sulit menentukan bentuk yang kongkret dalam target doa, bentuk kemakmuran itu masih global. Kemakmuran bisa dibilang tercukupinya semua kebutuhan material manusia. Semua itu apa? Banyak keinginan-keinginan kita yang kalau tercukupi kita anggap sebagai kemakmuran. Atau kemakmuran yang relatif bisa dianggap standard gaya hidup minimal. Misalnya tercukupinya kebutuhan sandang dan pangan juga perumahan, kemampuan menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. Itu sudah bisa dianggap makmur. Tapi bagian lain mengatakan itu belum makmur. Akhirnya kita merasa tidak menemukan kejelasan dari tujuan kemakmuran yang kita impikan. Akhirnya supaya kita bisa membayangkan dan menyebutkan secara jelas dan kongkret dari tujuan atau target doa kita, maka kita bisa memilih satu benda yang berharga mahal untuk mengukur kelas kemakmuran yang kita impikan. Misalnya orang yang mempunyai mobil mewah tentunya sudah mempunyai kemakmuran diatas rata-rata.

Kita boleh menganggap bahwa mempunyai satu mobil mewah adalah sudah cukup menunjukkan bahwa kita sudah dianggap makmur, atau kaya, bila dibandingkan dengan rata-rata dialami oleh orang Indonesia kebanyakan. Target utama mempunyai mobil mewah kita tentukan dengan lebih spesifik. Semua yang menjelaskan tentang mobil mewah itu misalnya, merek, tahun perakitan, bentuk sedan atau van, warna, dan lain-lain sekomplit mungkin supaya kita mudah membayangkannya. Dan mudah juga menyampaikannya dalam doa kita. Setelah melakukan sekali doa, pasti terjadi sesuatu yang menyenangkan hati kita, berbeda dari biasanya. Akan ada petunjuk ke arah titik terang dari problem yang kita serahkan pada Tuhan melewati doa kita. Peristiwa pertama yang terjadi tidak lama setelah kita melakukan doa adalah iimal kita mendapatkan ide yang baik dan menyenangkan untuk diikuti, selanjutnya ada beberapa peristiwa yang  memungkinkan kita semakin meyakini ide kita untuk kita kerjakan. Semakin tinggi kualitas doa kita, maka semakin cepat impian kita terwujud. Tapi karena begitu tingginya cita-cita kita, maka ada kecerdasan yang mengatur dan menyediakan fasilitas demi fasilitas agar akhirnya kita menjadi pantas untuk memiliki mobnil mewah yang kita impikan. Dalam hal ini keteguhan hati semakin diuji. Semakin kita bertahan dalam keyakinan akan tercapainya cita-cita oleh terkabulnya doa kita, maka semakin cepat dan banyak fasilitas yang datang. Entah ada tawaran pekerjaan, atau ada ide membuka usaha, semua itu ada sejalan dengan keteguhan kita untuk selalu menggempur batu karang penghalang berupa keyakinan yang mulai kabur. Terus berdoa, untuk selalu menyalakan api kehidupan, bagai lilin-lilin kecil yang terus kita tambahkan untuk terus menerangi kehidupan kita yang tadinya ada ruang-ruang gelab, menjadi tersinari semuanya. Terang semuanya. Satu ruang gelap tersinari, satu fasilitas berhasil kita dapatkan, terus menerus sampai, kelayakan dari kita untuk mempunyai mobil mewah impian kita terkabul.

Fasilitas-fasilitas apa yang kita terima setelah ruang gelap dalam diri kita mendapat sinar dari api kehipupan. Fasilitas itu tentunya yang berhubungan dengan target doa yang kita panjatkan. Seperti contoh d iatas, targetnya adalah mempunyai mobil mewah dengan ciri-ciri yang sudah kita sebutkan dari awal doa kita sampai tahapan terkabul. Fasilitas yang berhubungan dengan mobil mewah yang ingin kita miliki dimulai dari keadaan kita sekarang. Misalnya ternyata kita masih tergolong dalam orang yang hidup dibawah garis kemiskinan. Makan sekali dalam sehari. Setelah memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh dengan target yang jelas dan pasti, niscaya dengan keteguhan hati, kesabaran, dan keyakinan yang stabil, atau bahkan meningkat, sedikit demi sedikit terlihat jalan terang. Fasilitas pertama misalnya ada orang yang mempunyai tanah, harus berpindah daerah sementara tanahnya boleh dikerjakan sama orang itu. Orang itu mulai menanam sayur. Fasilitas berikutnya adalah adanya orang yang membeli hasil jerih payahnya. Ada kelebihan sedikit untuk membeli benih buah melon adalah termasuk fasilitas, ditanam berhasil, dijual laku, meningkat menjadi pengumpul buah melon dari para penggarap tanah. Meningkat menjadi penjual langsung ke pasar-pasar di kota. Begitu meningkat terus sampai tercapai impiannya, dimana pertama mungkin orang bilang mustahil. Tapi dengan keyakinan dan doa yang sungguh-sungguh tanpa henti menggempur kegelapan dalam hidupnya dengan terus menyalakan api kehidupan, maka terang hidup juga fasilitas yang menunjang akan datang dengan sendirinya. Kemakmuran tercapai.

Kendala yang paling sering terjadi dan saya kira itu masuk akal adalah adanya rasa bosan yang menggoda kita untuk menghentikan keyakinan akan pencapaian impian kita. Misalnya seperti contoh orang di atas yang sudah mendapatkan fasilitas baru sampai pada tahapan kira-kira yang kedua, suudah tergoda untuk menghentikan akktifitas doanya. Ruang gelap yang masih lebar dalam hidup orang itu baru tersinari oleh beberapa lilin kecil saja. Mungkin orang itu sudah mulai merasa puas untuk hanya mendapatkan tambahan kemakmuran sebatas sampai disitu saja. Target impian masih jauh. Ruang gelab masih lebar, sedangkan api kehidupan masih redup. Sayang bila tidak diteruskan. Ada resiko yang mungkin akan terjadi apabila orang itu justru melupakan niat doa untuk sekedar mempertahankan api kehidupan yang memang masih redup menjadi terhembus oleh angin-angin kecil, atau bahkan godaan kehidupan yang bisa menghembuskan lilin-lilin kecil penerang api kehidupannya menjadi benar-benar padam.

Seandainya memang kita sudah kewalahan untuk bertahan dalam keteguhan untuk mengejar impian kita. Mungkin ini yang dinamakan sudah menjadi nasib, sebagai alasan yang sering dianggap yang paling masuk akal untuk membenarkan kemalasan kita tetap ada dan tidak ingin kita lepaskan. Sebaiknya tidak begitu. Tapi ada pendapat lain bahwa kita sudah menggantungkan cita-cita setinggi langit, tapi karena berbagai kendala yang terjadin sebenarnya berasal dari keteguhan kita yang tidak tahan uji. Dan godaan-godaan kita untuk menuruti kemalasan, dan ketidak percayaan yang bisa kita sebut sebagai setan. Kita masih bisa mengambil keuntungan dari proses kegigihan yang sudah kita lalui sebelum akhirnya menyerah. Keuntungan yang kita ambil adalah kita sudah berlatih keteguhan, keyakinan, doa dengan konsentrasi dan hasil yang kita capai itu ada. Pasti ada perubahan yang terjadi dalam diri kita. Terutama berhubungan dengan target tujuan doa kita. Sedikit-sedikit kita terbukakan terang jalan kita dengan adanya permulaan ide yang mungkin sudah kita jalani sebagian dan juga membuahkan hasil berupa perubahan keadaan finansial kita kearah yang lebih baik. Itu sudah cukup menguntungkan apalagi bila kita terus bertahan untuk menambah lagi proses keteguhan kita dengan terus menyalakan api kehidupan. Ruang gelab yang sebagian sudah menjadi sedikit terang adalah perubahan terujud dalam material finansial kita. Tetap bertahan untuk terus menyalakan api kehidupan, ruang gelap menjadi semakin sempit, terisi oleh terang. Semakin sempit ruang gelab, semakin dekat dengan cita-cita, semakin dekat dengan kemakmuran dan juga kesejahteraan.

Berhenti untuk mengejar target impian kita masih boleh kita hentikan jika kita rasa kita tidak mampu untuk mengikuti proses yang menjadi rumit karena ruang gelab kita masih banyak. Atau kita menjadi berubah pikiran untuk mengambil target impian yang lain. Tapi akan menjadi hal berbahaya jika kita sama sekali tidak meneruskan aktifitas doa apapun untuk mempertahankan ruang terang yang sudah ada. Ahembusan angin kegelapan yang selalui menghantui, akan dengan leluasa memadamkan sebagian kecil api kehidupan kita, atau bahkan karena begitu besarnya godaan maka hati-hati akan padamnya api kehidupan kita. Resiko yang terjadi tentunya kebalikan dari kebaikan. Mungkin ada penyakit yang kecil dahulu, memerlukan biaya yang kecil, sampai suatu kejadian diluar keinginan kita. Maka selayaknya kita tetap menjaga untuk menyalakan api kehidupan dengan bantuan impian-impian kita yang kita panjatkan dengan doa yang sungguh-sungguh. Niscaya api kehidupan kita tetap bertahan untuk menyala dan bertahan dari hembusan angin. Kita sebaiknya menjaganya. Paling baik adalah menambahnya menjadi semakin terang.


Menjaga Nyala Api Kehidupan

Ada bagian ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa sebaiknya kita tidak usah khawatir terhadap hari esok karena hari esok ada kesusahannya sendiri. Saya tambahkan untuk buku ini bahwa tidak perlu khawatir apalagi kita sudah menyadari akan timbunan pahala yang sudah kita tabung dari hasil kesusahan kita hari ini dan kemarin termasuk melatih keteguhan dan kekuatan untuk mampu menyalakan api kehidupan jadi terang sehingga mampu bertahan saat godaan kegelapan yang mengguyur meskipun tetap harus kita waspadai keberadaanya dan kita upayakan sebisa mungkin untuk kita hindari.

Nyala api kehdupan di hidup kita yang redup sangat rawan terhadap berupa terpaan-terpaan dan hembusan dari godaan dampak dari kerasnya kehidupan. Nyala api kehidupan yang terang, memang ada juga hembusan angin yang lebih kencang menggoda untuk memadamkannya. Tapi pilihan terakhir adalah pilihan yang lebih baik, karena dengan nyala api kehidupan yang lebih terang, lebih mampu menahan hembusan angin yang besar, apalagi angin-angin kecil yang menjadi tidak terasa keberadaanya.

Godaan dan terpaaan angin kencang di sekitarkita akan selalu ada, bahkan ada yang sanggup mengguyur bagai air sehingga ada kemungkinan api kehidupan kita menjadi padam. Oleh karena itu embuat target impian dari tujuan sebuah doa adalah upaya kita untuk selalu waspada. Ibarat seorang tentara perang, yang selalu berlatih dengan target impian bisa mengalahkan musuh yang paling besar, maka keteguhan dalam sesabaran untuk berlatih perang akan membuahkan hasil kekuatan dan kecerdasan untuk mengerti cara berperang yang hebat. Meskipun kemungkinan untuk menang terhadap musuh besar itu belum tentu tercapai, setidaknya perkembangan kekuatanya melebihi orang sipil. Seandainya memang terjadi perang yang sebenarnya, tentara yang giat berlatih akan mempunyai kemungkinan besar untuk bisa bertahan dibanding dengan orang sipil, dimana semua orang termasuk orang sipil harus ikut perperang juga.

Jika kita merasa ragu terhadap terlalu tingginya target impian kita, apakah cukup layak untuk kita, jika memang belum layak, apakah kesabaran dan keteguhan hati kita bisa bertahan sampai impian kita tercapai. Seandainya kita berfikir untuk mengambil target impian lebih rendah tanpa mengurangi semangat, bisa saja kita lakukan. Karena setiap kali terkabul, kita tetap mengambil kontrak untuk impian yang selanjutnya, tanpa putus agar terjaga nyala api kita tetap menyala. Agar tidak mudah padam oleh hembusan angin yang menggelabkan.

Doa-doa yang kita ucapkan setiap waktu tanpa harus menggunakan konsentrasi penuh, misalnya doa dalam perjlanan berkendaraan bermotor, atau doa sewaktu menjalankan pekerjaan dengan resiko yang besar, atau doa-doa lain yang sederhana, merupakan sumber energi yang cukup untuk menjaga api kehidupan kita agar bertahan menghadapi hembusan hembusan yang kecil. Kadang tanpa sengaja disaat sedang melakukan aktifitapun kita mampu berkonsentrasi secara pekat dalam sekejap tepat disaat kita mengucapkan doa. Mungkin pada moment seperti inilah  kita tidak menyangka doa kita yang kadang berupa kata yang terucap secara emosi yang kebetulan bisa langsung terkabul. Kita bisa mengambil contoh sumpah dari ibu Malin Kondang terhadap anaknya.

Setiap kata kita sebenarnya adalah doa, maka hati-hati menggunakannya. Sebaiknya kitamembiasakan mengucapkan kata-kata kearah kebaikan. Hindarkanlah sumpah serapah dan cercaan dan hinaan. Ini bisa kita anggap sebagai hembusan-hembusan yang mengganggu nyala api kehidupan kita. Apalagi kata-kata maupun pikiran-pikiran yang negatif adalah sebagian dari doa yang harus kita hindari. Sebaiknya berfikir positif, mengambil hikmah yang baik dari segala macam peristiwa. Menjaga untuk selalu mengatakan kata-kata kebaikan. Niscaya nyala api kehidupan tetap terang dan bertambah terang.


Meminta  Api Kehidupan Orang Lain

Kadang kekuatan kita untuk bertahan atau keberadaan api kehidupan kita sekarang sedang redup, padahal kebutuhan untuk mengatasi problema kehidupan sedang berada di depan mata, dan perlu penanganan yang cepat atau terlalu beratnya beban hidup hingga kita sudah tidak mampu lagi mengatasinya. Itu pertanda persediaan Api kehidupan kita tidak mencukupi untuk mengatasi masalah yang menjadi sangat berat, karena batasan kemampuan kita. Keadaan ini adlah keadaan darurat yang membutuhkan bantuan orang lain yang kita percaya mempunyai kelebihan terang api kehidupan. Kita meminta orang itu untuk mendoakan kita agar sembuh penyakit kita, termasuk penyakit yang paling mudah dihinggapi kebanyakan orang biasa, yaitu penyakit kantong.

Keadaan yang darurat memang diluar perkiraan kita. Tapi keadaan darurat yang menguras pikiran, kesehatan  hingga keuangan kita kemukgkinan karena adanya hutang-hutang kita dahulu. Hutang yang ada karena kita memaksakan menarik keuntungan tanpa harga yang sepadan dari nilai cahaya api kehidupan kita. Kita merasa tidak puas dengan keadaan kita sekarang, hendak menambah pundi-pundi keuangan kita tapi kelayakan untuk mendapatkannya tidak ada atau kurang. Jalan pintas kita lakukan dengan memaksakan kehendak kita contoh mencuri atau sejenisnya, yang justru semakin meredupkan nyala api kehidupan kita. Semakin sering kita lakukan suatu kesalahan, semakin berkurang kelayakan yang ada pada kita. Kita harus membayarnya nanti dengan peristiwa yang sedih, atau berjenis penyakit.

Ada contoh lagi yang lain tidak terlalu parah, tapi dalam jangka waktu yang lama dilakukan. Waktu sebelumnya kita sudah diberi kesempatan untuk mengisi bahan bakan dari api kehidupan kita supaya tetap menyala, tapi karena kita lalai melakukannya, maka akan terkumpul dalam aktu yang lama sebagai hutang yang harus dibayar paksa dengan kesedihan. Atau kita bisa membayarnya dengan maksimal kemampuan kita dalam berdoa dengan konsentrasi. Ini akan mengurangi beban. Api telah dinyalakan, kemungkinan untuk lebih larut dalam kesedihan akan terkurangi. Biasanya kesedihan pertama harus kitatanggapi sebagai peringatan bahwa api kehidupan kita sedang redup, jangan terus dibiarkan sampai kesedeihan pertama menjadi kebiasaan untuk mendapat kesedihan berikutnya, yang ujung ujungnya membutuhkan bantuan orang lain untuk menyembuhkannya, atau jangn sampai terlambat sampai kesedihan dan sakit kita merusak jaringan jasad kita. Apalagi merusak kemampuan kita untuk berkonsentrasi. Ini paling fatal, ini bakan jadi penyakit kambuhan yang memerlukan selalu bantuan orang lain.

Pepatah yang baik mengatakan persiapkan bahan bakar lampu kita selalu untuk menerangi kemungkinan terjadinya kegelapan yang akan datang, dimana tidak ada warung lagi yang menjual bahan bakar itu. Mengisi bahan bakar secara spiritual. Bahkan alangkah baiknya  bila kita menimbun. Bisa untuk persediaan bagi kita sendiri, bisa kita bagikan juga untuk orang yang memerlukan, apalagi orang-orang yang kita cintai.